11 Tips sederhana mendidik anak yang wajib anda pelajari


Sahabatku, anak adalah titipan dari Sang Maha Pencipta. Oleh karenanya, kita sebagai orang tua tentu sangat dianjurkan bahkan wajib untuk merawat serta memberikan pendidikan yang terbaik buat mereka. Namun, kadangkala kita sebagai orang tua merasa bingung harus dimulai dari mana. Nah pada posting kali ini, saya akan berbagi sedikit Pesan dari Surga berupa 11 Tips sederhana mendidik anak yang wajib anda pelajari. 11 Tips sederhana mendidik anak tersebut?

11 Tips sederhana mendidik anak yang wajib anda pelajari

  1. Biasakan supaya anak kita bangun di waktu shubuh serta biasakan pula kita ajak ke masjid di waktu sholat. Pembiasaan ini akan membekas sampai mereka dewasa.
  2. Berikan ia suasana lingkungan pergaulan yang Islami. Pergaulan akan berpengaruh besar terhadap pola pikir dan tingkah laku mereka.
  3. Penting untuk memberikan teladan, bukan hanya sebatas perintah. Keteladan yang baik akan membuat setiap pemahaman menjadi mudah diterima oleh mereka.
  4. Berikan informasi batasan aurat dari sejak usia dini. Biarkan mereka nyaman dengan menutup aurat sejak kecil.
  5. Biasakan agar anak kita selalu membawa alat sholat.
  6. Usahakan untuk meminimalkan anak kita dalam hal mendengar musik-musik yang non islami.
  7. Buatlah jadwal untuk menonton TV dan dampingi selalu anak kita ketika menonton. Berikan pemahaman tentang hal yang baik dan buruk dari tontonan mereka.
  8. Ajarkanlah nilai-nilai ke Islaman dalam kehidupan sehari-hari. Bisa dalam bentuk cerita-cerita yang menarik.
  9. Jadilah orang tua yang bersahabat. Dengan begitu, kita akan lebih mudah memberikan pemahaman dan pendidikan Islam karena mereka merasa nyaman dengan kita.
  10. Ciptakan suasana yang hangat serta harmonis dalam keluarga. Keluarga yang hangat dan harmonis akan membuat mereka nyaman untuk sharing atau curhat.
  11. Lakukan semua metode di atas dengan sikap bijak, sabar serta konsisten. Dan mulailah sejak mereka masih kecil, karena itu akan lebih memudahkan kita dalam membangun karakter Islami.

Mudah-mudahan tips di atas bias sedikit memberikan gambaran bagi kita semua untuk lebih baik lagi dalam mendidik anak-anak kita. Sudahkah kita melaksanakan 11 tips sederhana mendidik anak di atas?

Bagaimana menurut sahabat?

»»  Baca Selengkapnya...

Hati-hati, suami tertukar gara-gara sedekah...


Alkisah, diceritakan sepasang suami istri yang baru saja menikah dan sedang menikamati malam-malam pengantin baru dirumahnya. Ketika itu mereka sedang asyik makan malam berdua, tiba-tiba saja pintu diketuk oleh seseorang yang kelihatannya benar-benar minta pertolongan. Orang itu benar-benar sedang dalam kelaparan, ingin makan atau barangkali hanya minta minum.

Suami bertanya pada Istri : "Siapa sih malam-malam begini mengganggu orang yang berbulan madu?" Perasaan kesal dan marah nampak di wajahnya. Istrinya berdiri dan langsung menghampiri pintu kemudian membukanya. Dari balik pintu istrinya mendengar suara seseorang yang sedang meminta makan. Kemudian dia balik mendekati suaminya dan berkata:"Di luar ada seseorang yang minta makan." Mendengar hal itu, suami bangkit dan keluar sambil marah-marah. Dipukulnya orang yang meminta itu sambil dicaci maki habis-habisan." Menggangu orang yang sedang berbulan madu, nggak tahu malu, masih muda minta-minta malam-malam begini.Pergi sana, kalau ngga segera pergi, saya hajar lagi kamu!" Hardik dia.

Dengan diiringi perut yang lapar, orang itu pergi meninggalkan rumah pengantin baru tersebut. Di lain sisi, sang suami tadi masih marah-marah seperti kerasukan setan, semakin menjadi-jadi marahnya dan lupa diri. Di malam itu juga dia pergi meninggalkan rumah dan istrinya entah kemana.

Lima belas tahun berlalu sejak kejadian tersebut, jejak suami tak ketahuan berada di mana, sementara sang istri dengan sabar menuggu kehadiran kembali suaminya. Hingga suatu hari dia bertemu seorang pemuda yang jatuh cinta padanya dan ia pun tertarik pula dengan pemuda itu. Akhirnya, mereka sepakat untuk menikah membangun mahligai rumah tangga yang bahagia.

Di malam pertama, mereka berdua mengadakan makan malam dengan begitu mesranya. Diselingi tawa dan canda penuh kebahagiaan. Ditengah kebahagiaan mereka, tiba-tiba pintu rumah mereka diketuk oleh seseorang. Suami berkata kepada istrinya :" Coba kamu lihat siap yang mengetuk pintu!" Sang istri berjalan mendekati pintu dan memandangi orang itu dari balik pintu. Kemudian dia menghampiri suaminya dan mengatakan kalau di luar ada orang yang meminta makan. Sang suami segera mengangkat makanan yang ada di meja dan menyerahkannya kepada si Istri," Berikan makanan ini semua kepadanya, biarkan dia makan sampai kenyang dan kita makan makanan yang ada di sini saja." Istrinya pun menyerahkan makanan itu kepada orang yang meminta tadi. Kemudian sang istri kembali masuk rumah. Akan tetapi kali ini wajahnya sayu, sambil menangis meneteskan air mata. Sang suami keheranan dan bertanya: " Kenapa kamu menangis ? Apakah dia menyakiti kamu? atau dia menghina kamu?" Si istri menjawab:" tidak "."Lalu kenapa kamu menangis?" tanya suami kembali. Istri lantas menjawab :"Laki-laki yang sekarang makan di depan rumah kita ini adalah suamiku 15 tahun yang lalu. Saat itu kami tengah makan malam berdua menikmati malam pengantin, tiba-tiba datang seseorang yang mengetuk pintu dan meminta makan. Suamiku merasa terganggu dan dia marah-marah sambil memukul orang itu. Setelah kejadian itu, dia pergi dan tidak tahu kabarnya. Namun, malam ini dia ada di depan rumah kita meminta makan."

Mendengar cerita istrinya, sang suami mendadak berubah wajah, matanya berkaca-kaca mengalirkan air mata. Rupanya dia menangis. Istrinya bingung dan kemudian bertanya :" Apa yang membuat kanda menangis?". Suaminya berkata :" Istriku, tahukah kamu siapa orang yang dipukul oleh suamimu dan diusirnya 15 tahun yang lalu?". " Memang siapa dia?" Tanya istrinya penuh keheranan. Suami menjawab : " Dia itu adalah aku, suamimu sekarang. Maka janganlah kamu pelit-pelit terhadap orang miskin, sangat mungkin suatu saat kamu akan bisa mengalami nasib yang sama."

Subhanallah, selalu ada kisah menarik ketika Allah yang membuat alur cerita itu. Setiap orang mungkin tidak menyadari, kalau Allah selalu punya skenario rahasia untuk setiap hamba-Nya. Tinggal bagaimana kita dengan bijak menentukan peran kita dalam skenario yang Allah siapkan tadi. Tokoh protagonis atau antagonis...Jangan sampai istri kita jadi milik orang lain hanya karena kita tidak mau bermurah hati kepada orang yang membutuhkan. Wallahu'alam bishshowab...

Bagaimana menurut anda ?

»»  Baca Selengkapnya...

Sahur Siang Hari..?


Sahabatku, posting saya kali ini tentang sebuah fenomena yang semakin marak terutama di bulan Ramadhan, fenomena itu saya sebut "sahur siang hari". Posting kali ini terinsprasi dari status facebook salah seorang sahabat, dan ini merupakan sebuah fenomena yang selalu marak di bulan Ramadhan. Saya ingin berbicara dari sisi yang lain, dan saya akan memulainya dari fiqih shaum secara sederhana.


Sahabatku, ada 4 golongan orang yang diperbolehkan untuk tidak melakukan puasa di bulan Ramadhan, yaitu:


Orang yang sakit

Sakit yang dimaksud dalam hal ini adalah seseorang yang mengidap penyakit yang membuatnya tidak lagi dikatakan sehat. Dalil mengenai hal ini adalah firman Allah Ta’ala,

“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185)

Namun, dalam hal ini para ulama bersepakat bahwa jika sudah sehat harus meng-qodhonya.
Sahabatku, ada tiga kondisi orang dikatakan sakit,

Kondisi pertama adalah apabila sakitnya ringan dan tidak berpengaruh apa-apa jika tetap berpuasa. Contohnya adalah pilek, pusing atau sakit kepala yang ringan, dan perut keroncongan. Untuk kondisi pertama ini tetap diharuskan untuk berpuasa.

Kondisi kedua adalah apabila sakitnya bisa bertambah parah atau akan menjadi lama sembuhnya dan menjadi berat jika berpuasa, namun hal ini tidak membahayakan. Untuk kondisi ini dianjurkan untuk tidak berpuasa dan dimakruhkan jika tetap ingin berpuasa.

Kondisi ketiga adalah apabila tetap berpuasa akan menyusahkan dirinya bahkan bisa mengantarkan pada kematian. Untuk kondisi ini diharamkan untuk berpuasa.
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu.” (QS. An Nisa’: 29)

Orang yang sedang safar atau dalam perjalanan

Musafir yang melakukan perjalanan jauh sehingga mendapatkan keringananuntuk mengqoshor shalat dibolehkan untuk tidak berpuasa. Sebagaimana dalil surat Al-Baqoroh ayat 185 di atas. Namun perlu kita ketahui definisi musafir itu sendiri. Yaitu, orang yang meninggalkan tempat tinggalnya dalam jarak tertentu dan berniat tinggal di tempat yang dituju dalam waktu tertentu. Menurut mazhab Syafi’i dan Maliki jarak yang ditempuh sekurang-kurangnya 77 kilometer, sedang menurut Abu Hanifah 115 kilometer. Batasan waktunya, menurut Imam Ahmad, Imam Syafi’i, dan Imam Malik adalah empat hari, sedangkan menurut Abu Hanifah 15 hari.

Orang yang Sudah Tua dan dalam Keadaan Lemah

Para ulama sepakat bahwa orang tua yang tidak mampu berpuasa, boleh baginya untuk tidak berpuasa dan tidak ada qodho baginya. Menurut mayoritas ulama, cukup bagi mereka untuk memberi fidyah yaitu memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Pendapat mayoritas ulama inilah yang lebih kuat. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al Baqarah: 184)

Wanita Hamil dan Menyusui

Jika wanita hamil takut terhadap janin yang berada dalam kandungannya dan wanita menyusui takut terhadap bayi yang dia sapih –misalnya takut kurangnya susu- karena sebab keduanya berpuasa, maka boleh baginya untuk tidak berpuasa, dan hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla meringankan setengah shalat untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir, wanita hamil dan menyusui.” HR. An Nasai no. 2275, Ibnu Majah no. 1667, dan Ahmad 4/347. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

Namun apa kewajiban wanita hamil dan menyusui jika tidak berpuasa, apakah ada qodho’ ataukah mesti menunaikan fidyah? Al Jashshosh rahimahullah mengatakan, “Para ulama salaf telah berselisih pendapat dalam masalah ini menjadi tiga pendapat. ‘Ali berpendapat bahwa wanita hamil dan menyusui wajib qodho’ jika keduanya tidak berpuasa dan tidak ada fidyah ketika itu. Pendapat ini juga menjadi pendapat Ibrahim, Al Hasan dan ‘Atho’. Ibnu ‘Abbas berpendapat cukup keduanya membayar fidyah saja, tanpa ada qodho’. Sedangkan Ibnu ‘Umar dan Mujahid berpendapat bahwa keduanya harus menunaikan fidyah sekaligus qodho’.” [Majmu’ Al Fatawa Ibnu Baz, 15/225]

Sahabatku, itulah penjelasan singkat tentang 4 golongan yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Lalu bagaimana status orang-orang yang dengan terang-terangan 'sahur siang hari' bahkan secara berjamaah (katanya biar afdhol)? Maka tinggal cross check saja dengan kriteria 4 golongan tadi. Apakah mereka orang yang sakit, atau musafir, atau orang tua renta nan lemah, atau mungkin yang terakhir wanita hamil dan menyusui. Jika tidak ada yang cocok dengan 4 kriteria di atas maka sudah bisa dipastikan bahwa mereka sedang pura-pura, 'orang sakit yang pura-pura sehat', 'musafir yang menyamar jadi pribumi', 'orang tua renta yang pura-pura jadi anak muda', atau mungkin yang ke empat, wanita hamil dan menyusui yang menyamar jadi laki-laki. Mana yang benar...? Wallahu'alam bishshowab....

Bagaimana menurut anda...?


»»  Baca Selengkapnya...

Jangan Marah ya...!



Sahabatku, masih berbicara dalam bingkai Ramadhan, saya ingin mengajak sahabat semua untuk berbicara tentang marah. Saiapapun diantara kita pasti pernah mengalami suatu kondisi marah. Marah itu muncul sebagai reaksi atas sesuatu yang terjadi di sekitar kita berupa ancaman, ketersinggungan perasaan, kekerasan yang kita terima, ketidakadilan yang kita terima dll. Marah itu adalah sesuatu yang bersifat alami, yang Allah berikan kepada setiap hamba-Nya. Oleh karena itu, marah jangan dipendam karena bisa berakibat terhadap terganggunya emosi kita. Yang lebih penting adalah mengendalikan marah itu agar jangan sampai merusak.


Sahabatku, berbicara tentang marah, Rasulullah SAW telah memberikan panduan. Diantaranya seperti hadis di bawah ini:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Berilah saya nasihat.” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari)

“Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad, Shohih)

Dahulu ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, “Wahai Rosululloh, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan.” (HR. Thobrani, Shohih)

Dari ketiga hadis itu, Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan bahwa makna 'Jangan Marah' bukan bermaksud untuk menghilangkan rasa marah, karena itu adalah tabiat manusia yang alami, akan tetapi kita diharuskan mengendalikan marah itu agar jangan sampai diikuti dengan tindakan buruk lain yang merusak. Begitupun dengan Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh. Beliau mengatakan kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesungguhnya kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab itulah anda bisa melihat kalau orang sedang marah maka kedua matanya pun menjadi merah dan urat lehernya menonjol dan menegang. Bahkan terkadang rambutnya ikut rontok dan berjatuhan akibat luapan marah. Dan berbagai hal lain yang tidak terpuji timbul di belakangnya. Sehingga terkadang pelakunya merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah dia lakukan.”

Rasa marah yang diikuti dengan tindakan merusak, mengamuk dan tindakan-tindakan buruk lain tentu akan sangat merugikan diri sendiri dan orang lain. Bagi diri sendiri tentu akan merasa hilang harga diri karena pada hakekatnya orang yang malah adalah orang yang kalah, kalah oleh hawa nafsunya. Dan bagi orang lain sudah tentu kemarahan baik yang masih bersifat umpatan, atau ejekan, membuat sakit hati orang lain. Apalagi jika kemarahan yang bersikap merusak sudah pasti akan terjadi permusuhan dan akhirnya putuslah tali silaturahim diantara mereka. Jika sudah putus silaturahim maka cukuplah apa yang disampaikan Rasulullah kepada kita, Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda
: "Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya" (Riwayat Muslim, Hadits 35 Hadits Arba’in An Nawawi)

Sahabatku, dari uraian singkat di atas, maka yang menjadi kewajiban bagi kita adalah mengendalikan rasa marah itu, bukan menghilangkannya karena marah tidak bisa dihilangkan. Oleh karena itu Syaikh Wahiid Baali hafizhohulloh menyebutkan beberapa tips untuk menanggulangi marah yang saya kutif dari situs Muslim.or.id. Diantaranya ialah:
Membaca ta’awudz yaitu, “A’udzubillahi minasy syaithanir rajiim”.
  1. Mengingat besarnya pahala orang yang bisa menahan luapan marahnya.
  2. Mengambil sikap diam, tidak berbicara.
  3. Duduk atau berbaring.
  4. Memikirkan betapa jelek penampilannya apabila sedang dalam keadaan marah.
  5. Mengingat agungnya balasan bagi orang yang mau memaafkan kesalahan orang yang bodoh.
  6. Meninggalkan berbagai bentuk celaan, makian, tuduhan, laknat dan cercaan karena itu semua termasuk perangai orang-orang bodoh.


Sahabatku, betapa besarnya akibat yang ditimbulkan oleh rasa marah yang tidak terkendali, maka Rasulullah kembali mengingatkan bahwa “Orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi yang disebut orang kuat adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya pada saat marah”.[HR. Bukhari dan Muslim].

Apakah kita termasuk orang kuat yang dimaksud dalam hadis di atas atau bukan?, sudah seharusnya di bulan Ramadhan yang mulia ini, kita belajar untuk mengendalikan marah, karena hakikatnya puasa ini adalah bukan hanya menahan rasa haus dan lapar akan tetapi lebih dari itu kita wajib menahan (mengendalikan) perasaan dan perbuatan buruk, salah satunya Marah...

Sahabatku, kendalikan marahmu, lemparkan senyummu, hiasi hari-hari kita dengan kerendahan hati dan sikap menghargai, maka niscaya kita terlahir sebagai orang kuat sesungguhnya. Mudah-mudahan tulisan bisa menginspirasi kita semua. Yang terpenting..., Jangan marah ya...

Bagaimana menurut anda....



»»  Baca Selengkapnya...

Lapar kita....Dunia Mereka....



Menahan lapar dan haus mungkin menjadi teman bagi kita selama bulan Ramadhan ini. Panas terik matahari menambah lemas tubuh ini. Bagi sebagian muslim, hal ini menjadi keluhan, tetapi bagi sebagian yang lain, ini menjadi ujian tersendiri bagi kualitas kehidupannya. Betapa tidak, panas terik matahari di tengah suasana perut yang keroncongan dan tenggorokan kering menjadi ajang pembuktian bagi ketaatannya kepada Allah SWT


Sahabatku, lapar dan haus itu tak lama menyapa kita, karena saat maghrib tiba, perut kosong kita bisa segera kita isi, begitupun juga dengan kerongkongan yang kering ini bisa segera terbasahi oleh air. Ya memang inilah ujian sesaat bagi kita yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Hanya sekilas, kurang lebih 12 jam.

Apakah semuanya sama? Ternyata tidak, karena di belahan dunia yang lain, di belahan pulau yang lain, di belahan kota yang lain, hingga dibelahan kampung kita yang lain ternyata sangat banyak saudara kita yang justru kebalikannya dengan kita. Jika lapar yang kita rasakan saat ini hanya berlaku selama 12 jam dan selama 1 bulan, tetapi bagi mereka sebaliknya justru perut kenyang itu hanya mungkin terjadi seminggu sekali bahkan bisa jadi sebulan sekali atau lebih. Ya...mereka adalah saudara kita yang kurang mampu, dan lapar adalah menjadi bagian dari kehidupannya yang tidak terpisah. Bagi mereka kelaparan yang selalu mereka rasakan adalah suatu hal yang biasa dan seolah-olah menjadi pakaian dari keseharian mereka. Jika kita merasa perlu untuk beradaptasi dengan suasana lapar, maka bagi mereka itu adalah hal yang ngga aneh, karena ketidakmampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka terutama dalam urusan pangan.

Sahabatku, mungkin inilah salah satu hikmah mengapa ada bulan Ramadhan yang menyapa kita. Barangkali bulan Ramadhan inilah yang akan mengingatkan kita pada saudara-saudara kita yang kurang mampu. Bahwa ditengah kecukupan kita, masih ada saudara kita yang kadang sulit bagi mereka untuk memenuhi kebutuhannya, bahkan untuk sekedar bermimpi saja barangkali mereka ngga pernah. Ramadhan inilah yang menyadarkan kepada kita bahwa saat ini kelaparan dan kehausan yang kita rasakan belum seberat dengan apa yang menimpa mereka. Kita masih bisa menemui nasi dan lauk pauknya, sedangkan mereka?

Sahabatku, bukankah Rasulullah pernah menyampaikan bahwa : " Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain" (HR. Bukhari). Maka sudah saatnya kita berikan manfaat keberadaan kita bagi mereka. Saatnya berbagi kelimpahan rejeki, saatnya menjadi manusia terbaik. Perbanyak airnya jika kita memasak sayur dan bagikan kepada tetangga kiri kanan kita, itulah perumpamaan yang Rasulullah sampaikan. Sehingga tak ada lagi kondisi dimana kita kekenyangan sementara tetangga sebelah kita kelaparan.

Ya...! Ramadhan adalah bulan berbagi dengan sesama, muliakan mereka dengan kemampuan kita. Karena lapar kita...adalah dunia mereka saat ini.....Selamat berbagi, selamat berlomba menjadi insan terbaik....semoga Allah memudahkan kita untuk berbuat...Wallahu'alam bishshowab....

Bagaimana menurut anda...



»»  Baca Selengkapnya...

Artikel Tetangga