TUNJUKANLAH AKU JALAN YANG LURUS...


Jika diibaratkan dalam ilmu Matematika, jalan yang lurus itu ibarat sebuah garis lurus. Garis lurus ini sebenarnya adalah gabungan dari banyak titik yang saling berimpit. Dalam kaidah matematika juga di jelaskan bahwa garis lurus ini selalu menghubungkan dua titik yang letaknya berbeda. Kita sebut saja titik A adalah titik awal dan titk B adalah titik Akhir. Maka dari itu garis lurus memiliki sifat yang lain yaitu selalu menghubungkan dua titik tanpa kembali ke titik awal. Jika dia kembali ke titik awal maka dia tidak disebut garis lurus melainkan lingkaran. Sehingga bisa dikatakan bahwa garis lurus itu hanya menghubungkan dua titik dalam satu arah.
Kaidah berikutnya tentang garis lurus dalam ilmu matematika adalah jarak tempuh yang paling pendek dalam menghubungkan dua titik tersebut. Hal ini tentu berbeda apabila kita menghubungkan dua titik dengan bentuk lingkaran. Sehingga kita bisa simpulkan bahwa garis lurus itu adalah garis yang terdiri dari titik yang saling berhimpit, menghubungkan dua titik yaitu awal dan akhir, selalu bergerak searah (tak pernah kembali ke titik awal ) dan merupakan jarak tempuh yang paling dekat.

Sahabatku, jika demikian adanya dengan garis lurus, maka begitu pula dengan jalan lurus. Minimal itulah yang bisa kita fahami dari karakteristik jalan yang lurus. Jalan yang lurus itu merupakan gabungan dari titik-titik kehidupan yang selalu berkesinambungan. Dalam kehidupan, titik-titik ini merupakan fragmen sejarah kehidupan kita. Titik-titik ini merupakan potongan cerita kehidupan kita. Baik itu kebahagiaan maupun kesedihan, atau suka dan duka. Jalan lurus itu bukan berarti jalan yang hanya di isi oleh kebaikan saja meskipun pada hakikatnya jalan itu akan melahirkan kebahagiaan. Lihatlah bagaimana kisah perjuangan orang-orang yang berusaha mencapai jalan lurus ini. Dalam setiap jengkal kehidupannya selalu diwarnai dengan lukisan kebahagiaan dan coretan duka, tapi itulah jalan yang harus mereka tempuh. Bahkan lebih ironis lagi bahwa jalan yang mereka tempuh itu biasanya lebih banyak duka daripada suka.

Yang kedua, jalan lurus itu jalan lurus itu menghubungkan dua titik yang berbeda lokasi. Titik A adalah titik awal dimana pada titik itu kita berada pada kondisi nol alias serba tidak tahu. Karenanya pada saat itu kita tidak bisa membedakan antara yang benar dan salah, antara kebaikan dan keburukan. Seiring dengan gerakan waktu, kita pun sedikit demi sedikit berangsur menuju kondisi yang serba tahu. Kita menjadi tahu mana yang hak dan yang bathil, yang halal dan haram. Itulah saat kita menginjak usia baligh. Dan itulah titik akhir yang akan kita tuju, yaitu titik dimana kita memiliki kemampuan untuk memilih dan memilah yang terbaik buat kehidupan ini.

Sahabatku, berikutnya yang ketiga, jalan lurus itu adalah jalan yang selalu bergeraksatu arah, alias tidak pernah kembali ke titik asal. Sehingga orang yang berada di jalan lurus ini, seharusnya menjadi orang yang selalu meningkat kemampuannya dalam menjalani kehidupan ini, bukan orang yang malah kembali kezaman dimana kita tak mengetahui apa-apa alias titik nol tadi. Semakin hari-semakin luas ilmu pengetahuannya, semakin bijak dalam emosinya, semakin bertambah dalam hartanya.dan yang lebih penting adalah semakin taat terhadap yang menciptakannya.

Yang keempat, jalan lurus itu adalah jalan yang paling pendek jarak tempuhnya, sehingga perjalanan lebih cepat, lebih mudah, lebih ringan dibanding dengan jalan yang memutar dan lebih aman disbanding jalan yang berbelok-belok yang bisa jadi malah tersesat. Itulah kehidupan dari orang-orang yang selalu berada dalam jalan yang lurus. Hidupnya selalu lebih mudah, lebih ringan dan selalu berada pada jalur yang benar.

Sahabatku, ingatkah kita bahwa jalan lurus ini adalah jalan yang selalu kita minta pada saat sholat. Minimal 17 kali kita ucapkan sehari semalam ketika kita membaca surat Al-Fatihah, “TUNJUKANLAH AKU JALAN YANG LURUS”, itulah doa yang kita lantunkan setiap hari. Namun, ada yang perlu kita renungkan dalam hidup ini terutama kaitannya dengan doa kita untuk memohon jalan yang lurus tadi.
Bukankah jalan yang lurus itu selalu membawa pada kemudahan ? tapi mengapa hidup kita selalu dirasakan susah setiap saat?
Bukankah jalan yang lurus itu selalu membawa pada kebaikan? Tapi mengapa kita selalu merasa bahwa hidup kita tidak pernah berubah menjadi lebih baik?
Bukankah jalan lurus itu selalu ringan? Tapi mengapa hidup kita selalu merasa berat?

Apakah ini menadakan bahwa doa kita tidak terkabul?

Jawabnya…., bukan itu? Kita selalu memohon setiap saat agar ditunjukan jalan yang lurus, tapi mengapa saat ada ajakan untuk mengaji, infak, dan sholat kita selalu enggan bahkan menolak. Bukankah ngaji, infaq dan sholat itu bentuk dari kebaikan? Bukankah jalan lurus itu mengantarkan kita pada kebaikan?

Kita selalu memohon setiap saat agar ditunjukan jalan yang lurus, tapi mengapa kita selalu mempersulit dalam hal ibadah. Bukankah ibadah itu untuk memudahkan kita dalam hidup? Bukankah jalan yang lurus itu selalu menghadirkan kemudahan dalam hidup?

Jika itu yang sering kita lakukan, maka bukan berarti doa kita yang tidak terkabul, akan tetapi karena kita tidak pernah konsisten dengan apa yang kita ucapkan. Kaki kita tidak pernah seirama dengan mulut kita. Padahal berbagai macam cara Allah sampaikan untuk menjawab doa kita. Dia berikan petunjuk itu, tetapi kita malah diam bahkan pergi meninggalkan petunjuk itu. Maka yang menjadi pertanyaan adalah sadarkah kita dengan apa yang kita minta saat sholat itu?

Bagaimana menurut anda?




0 komentar:

Poskan Komentar

Artikel Tetangga